Minggu, 16 November 2008

TEORI IDENTIFIKASI

Teori Identifikasi (Identification Theory)

Seseorang terkadang ingin menyerupai orang lain yang diidolakannya. Ia lalu bermaksud berusaha menyamai idolanya itu, dalam tingkah laku ataupun dalam penampilannya, sehingga ia tampak identik dengan sang idola. Dalam hubungan ini, teori identifikasi menjadi suatu penjelasan teoritis yang disukai untuk menjelaskan misalnya, bagaimana seseorang berperilaku dan berpenampilan mirip dengan Michael Jackson. Ia kemudian mengembangkan atribut-atribut yang luas dan pola perilaku yang secara umum mirip dengan idolanya dan model-model sosial lain yang bermakna dalam hidup mereka.
Konsep identifikasi memiliki tiga pengertian yang khas, yakni :
• Menurut analisis Bronfenbrenner (1960), identifikasi menunjuk kepada perilaku ketika seseorang bertindak atau merasa seperti orang lain (yang disebut “model”). Kemiripan perilaku diantara dua orang bukan berarti bahwa ia telah identik dengan orang lain. Seorang anak misalnya yang identik dengan ayahnya, ketika ayahnya sedang merasa senang, dan si anak merasa senang pada waktu yang bersamaan. Keduanya independen satu sama lain dan berdasarkan alasan yang sepenuhnya amat berbeda. Si ayah senang karena pangkatnya naik, sedangkan si anak senang karena ia mendapat pacar baru. Hal itu memperlihatkan bahwa kemiripan seseorang dengan orang lain bukan membuat ia menjadi orang lain.
• Identifikasi juga berarti suatu motif dalam bentuk suatu keinginan umum untuk berbuat atau menjadi seperti orang lain. Seseorang harus memiliki motif untuk menyamai atau menyerupai model. Besar sekali kemungkinan bahwa kebanyakan anak memiliki motif yang kuat untuk menyamai atau menyerupai orang tuanya.
• Identifikasi mengacu kepada proses atau mekanisme melalui mana anak-anak menyamai suatu model dan menjadikan diri seperti model itu. Dengan teori ini dapat dipahami bahwa bagaimana seorang anak membiasakan standar-standar orang tua dan sosial untuk diidentifikasi perilakunya sesuai dengan jenis kelamin dan tindakan moral yang tepat, dan bagaimana mereka menjadikan atribut dan karakter orangtuanya menjadi bagian dari diri mereka, khususnya yang sama jenis kelaminnya. Anak laki-laki mengidentifikasikan diri dengan ayahnya sementara anak perempuan dengan ibunya.
Walaupun identifikasi melibatkan peniruan terhadap suatu model (misalnya seorang pemuda berpenampilan mirip Damon Albarn), namun istilah identifikasi dan peniruan (imitasi) tidaklah sinonim. Suatu proses peniruan semata-mata menyangkut tidak lebih sekedar emulasi dari perilaku tertentu dari suatu model. Sedangkan identifikasi merupakan proses yang jauh lebih kompleks, hingga tingkat yang bermacam-macam, membuat seseorang seolah-olah dia adalah orang lain, yaitu tokoh yang dijadikannya model itu.
Bagi anak-anak dan remaja, dua motivasi penting yang mendorong mereka untuk mengidentifikasikan diri adalah :
1. Keinginan untuk memiliki kekuasaan (a desire for power) dan penguasaan terhadap lingkungan (mastery over the environtment) dan,
2. Kebutuhan akan asuhan dan perhatian (affection)
Konsep identifikasi ini membantu kita untuk memahami tentang mengapa anggota masyarakat berusaha menerupai tokoh-tokoh ideal yang mereka temukan melalui sajian media massa. Begitu banyak orang yang menjadikan bintang film, artis sinetron, musisi, atau pribadi menarik lainnya sebagai idola mereka, sehingga mereka berusaha menyamai gerak-gerik, penampilan dan tingkah laku idolanya tersebut. Khalayak yang seperti ini akan berpakaian, memilih mode, berdandan dan berbicara seperto tokoh yang diidentifikasikannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar